Sejakumur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya.
Mengikutitradisi keilmuan thoriqoh, murid-murid dari Syaikh Ma'ruf, Jenengan, dan Syaikh Idris, Kacangan, pun rata-rata melanjutkan bai'at dan suluk mereka kepada mursyid-mursyid thoriqoh Syadziliyyah lain yang saat ini masih hidup. Meski ada juga yang secara kasuistik justru mengibarkan bendera kemursyidan sendiri.
BacaJuga. Perkembangan Tarekat Rifa'iyah di Turki semasa pemerintahan Turki Usmaniyah (Ottoman) terbilang sangat pesat. Sejarah mencatat beberapa nama mursyid (pemimpin) Tarekat Rifa'iyah di Turki. Salah satunya adalah Syekh Abu Al-Huda Muhammad Al-Shayyadi (1850-1909). Syekh Shayyadi mendirikan salah satu cabang penting Tarekat Rifa'iyah.
Ya ternyata setelah dioperasi daging jadi itu berubah menjadi seorang bayi, yang diberi nama Sufi Firdaus. Idos panggilan anak ini, hingga saat ini masih hidup dan mengabdikan dirinya untuk menjadi murid Syeikh Ahmad Shohibul wafa Tajul 'Arifin ra (Abah Anom). *MENGAWASI HATI MURID-MURIDNYA
Dalamtradisi tarekat, kedudukan mursyid senantiasa dijabat oleh orang laiki-laki. Tidak lazim mursyid dijabat oleh seorang wanita. Di daerah Malang, pernah ada kejadian bahwa seorang pengamal tarekat mendapatkannya dari seorang wanita, yang masih ibunya sendiri, kemudian ajarannya tidak diakui
3KasQS. Pada tahun 1997 beliau menikahi Nyai Durrotus Saâadah asal Cirebon Jawa Barat. Kesibukan Beliau saat ini selain sebagai pengasuh pesantren, sekaligus sebagai Mursyid Thoriqoh Syadziliah yang memiliki wewenang untuk membaiâat jamaahnya. Abah beliau, KH Muhaiminan yang mewariskannya sesaat sebelum wafat pada tahun 2007 silam. Beliau memiliki Jamaah Thoriqotnya berjumlah ribuan dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia Khususnya Jawa Tengah.*** Halaman 1 2 Sebelumnya Editor Eko Wahyu Budi Sumber Berbagai Sumber Tags ulama profil Mursyid KH Haidar Muhaiminan Toriqoh Asyadziliyah Artikel Terkait Sejarah dan Karomah SUNAN GUNUNG JATI, Diantaranya Bisa Keluarkan Penyakit Tumor Tanpa Operasi KAROMAH KH Maimoen Zubair, Tokoh Penting NU yang Pernah Ditemui Rasulullah KAROMAH KH Muhaiminan Gunardho Sang 'Pendekar' dari Parakan, Keturunan Sultan Hamengkubuwono II Terkini Makna Turun Hujan saat Prosesi Pemakaman Jenazah Menurut Islam, Ternyata Itu Adalah Bukti... Kamis, 4 Mei 2023 1009 WIB Dijamin Kaya Raya, Amalkan Bacaan Dzikir Tasbih Malaikat Ijazah Habib Novel Alaydrus Ini Minggu, 19 Maret 2023 0550 WIB Titisan Para Dewa, 8 Weton Laki-laki Ini Membawa Rezeki dan Keberuntungan, Apakah Weton Anda Termasuk? Rabu, 15 Maret 2023 1339 WIB Menakjubkan, Ini Tiga Balasan Bagi Pengamal Sedekah Subuh Ijazah Syekh Ali Jaber Jumat, 24 Februari 2023 1300 WIB Testimoni Amalan Sedekah Subuh, Ijazah dari Syekh Ali Jaber, Rezeki Berlimpah Hutang Lunas, Yukk Dawamkan Jumat, 24 Februari 2023 0900 WIB Ijazah Sedekah Subuh Syekh Ali Jaber, Wasilah Agar Hajat Apa Saja Segera Terkabul, Bagaimana Caranya? Jumat, 24 Februari 2023 0714 WIB Amalan Dzikir Pembuka Pintu Rezeki Sesuai Riwayat Rasulullah, Ijazah Habib Novel Alaydrus, Dibaca 100x Sehari Selasa, 17 Januari 2023 0632 WIB Amalan Dzikir Sugih Duit Ijazah Habib Novel Alaydrus Ya Hannan Ya Mannan Ya Fattah Ya Razzaq, Amalkan Yukk! Selasa, 17 Januari 2023 0620 WIB Bacaan Dzikir Ya Hannan Ya Mannan Ya Fattah Ya Razzaq Rezeki Akan Mengalir Deras Jumat, 13 Januari 2023 0847 WIB Tata Cara Ijazah Bacaan Dzikir Syekh Ali Jaber, Hasbunallah Wanikmal Wakil yang Ampuh untuk Segala Hajat Rabu, 21 Desember 2022 0730 WIB Sedekah di Waktu Ini, Menurut Syekh Ali Jaber Sangat Mustajab, Semua Hajat Terkabulkan! Selasa, 20 Desember 2022 0913 WIB Redaksi Bacaan Sholawat yang Terbaik dan Sempurna Menurut Syekh Ali Jaber, Beserta Pengamalannya Selasa, 20 Desember 2022 0905 WIB Syekh Ali Jaber Kerjakan Amalan Ini Setelah Sholat Fardhu, Ganjarannya Surga! Selasa, 20 Desember 2022 0903 WIB Teks Khutbah Jumat Hari Ini 2 Desember 2022 Terbaru, Tema Takwa Kunci Kehidupan Dunia Akhirat Jumat, 2 Desember 2022 0718 WIB Berikut Tata Cara dan Niat Mandi Besar Setelah Berhubungan Suami Istri Senin, 14 November 2022 0536 WIB Jadwal Puasa Ayyamul Bidh 8 November 2022 Lengkap dengan Niat dan Tata Caranya Selasa, 8 November 2022 0535 WIB Berikut Ini Profil Ustadzah Halimah Alaydrus, Juru Dakwah Keturunan Rasulullah yang Viral di TikTok Senin, 31 Oktober 2022 1820 WIB Doa Turun Hujan Disertai Angin Kencang dan Petir Sesuai Ajaran Rasulullah Jumat, 7 Oktober 2022 0952 WIB Rebo Wekasan Kapan dan Tanggal Berapa? Lengkap dengan Amalan Doa dan Cara Sholat Lidafil Bala Selasa, 20 September 2022 1426 WIB Amalan Rebo Wekasan Bacaan Doa dan dan Tata Cara Sholat Lidafil Bala Selasa, 20 September 2022 1422 WIB
ďťżSebiji buncis meronta dan terus melompathingga hampir melampaui bibir kualidi mana ia tengah direbus di atas api.âKenapa kau lakukan ini padaku?âDengan sendok kayunya,Sang Juru Masak mementungnya jatuh kembali.âJangan coba-coba melompat kira aku sedang menyiksamu?Aku memberimu cita rasa!Sehingga kau layak bersanding dengan rempah dan nasiuntuk menjadi gelora kehidupan dalam diri saat-saat kau nikmati regukan air hujan di itu ada untuk saat ini!âPertama, keindahan. Lalu kenikmatan,kemudian kehidupan baru yang mendidih akan itu, Sang Sahabat akan punya sesuatu yang enak untuk saatnya, buncis akan berkata pada Sang Juru Masak,âRebuslah aku lagi. Hajar aku dengan sendok adukan,karena aku tak bisa melakukannya seperti gajah yang melamun menerawangtentang taman di Hindustan yang dulu kutinggalkan,dan tidak memperhatikan pawang pengendali arah pemasakku, pawangku, jalanku menuju cita rasa suka caramu membuat masakan.ââDulu aku pun seperti engkau,masih hijau dari atas tanah. Lalu aku direbus matang dalam waktu,direbus matang dalam jasad. Dua rebusan yang binatang dalam diriku tumbuh dia dengan latihan,lalu aku direbus lagi, dan direbus satu titik aku melampaui itu semua,dan menjadi gurumu.â Puisi al-Imam Jalaluddin Rumi, âChickpea to Cook,â dalam Barks, Coleman trans. âThe Essential Rumiâ. Castle Books, 1997. MURSYID Mursyid itu adalah guru ruhani yang mengetahui anatomi ruhani kita dengan jelas, dan menghadapkan kita ke hadirat Allah Swt. Agar kita mengenal Allah dengan sesungguhnya. Perkataan mursyid berasal dari bahasa arab, dari kata irsyada, yaitu memberi tunjuk-ajar. Dalam arti kata lain, mursyid berarti, seseorang yang pakar dalam memberi tunjuk-ajar terutamanya dalam bidang kerohanian, dalam istilah para sufi. Mursyid secara istilahnya menurut kaum sufi, merupakan mereka yang bertanggungjawab memimpin murid dan membimbing perjalanan rohani murid untuk sampai kepada Allah dalam proses tarbiah yang teratur, dalam bentuk tarekat sufiyah. Para mursyid dianggap golongan pewaris Nabi dalam bidang pentarbiah umat dan pemurnian jiwa mereka tazkiyah an-nafs, yang mendapat izin irsyad izin untuk memberi bimbingan kepada manusia dari para mursyid mereka sebelum mereka, yang mana mereka juga mendapat izin irsyad dari mursyid sebelum mereka dan seterusnya, sehinggalah silsilah izin irsyad tersebut sampai kepada Rasulullah tanpa terputus turutannya. Oleh itu pada kebiasaannya, ia daripada keturunan ulamak. Para mursyid bertanggung jawab bagi mengajar dari sudut zahir syariat dan makna batin. Antara ciri seseorang yang digelar mursyid adalah- Mempunyai ilmu agama yang jelas tentang perkara-perkara fardhu 'ain. Dia merupakan seorang yang kamil/sempurna dari sudut muamalah dengan Allah SWT. Mendapat pengiktirafan /pengesahan dari mursyidnya guru yang diiktiraf tidak putus dalam turutan pengajaran. Manhaj tarbiah yang selaras dengan panduan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Mursyid mengajarkan kita bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memberi contoh suri teladan yang indah kepada kita bagaimana berakhlak yang baik dan beribadah yang benar secara lahir dan batin atau secara syariâat dan secara hakikat. Seorang guru mursyid begitu penting keberadaannya dalam sebuah Thariqah. Yang paling utama dengan Guru Mursyid, si murid akan mendapatkan talqin pengajaran/pengijazahan dzikir atau baâiat yang tidak bisa dilakukan oleh orang biasa. Sangat berbeda dengan ijazah Amalan Ilmu Hikmah, karena talqin itu suatu proses dimana mursyid memasukan nur nubuwah cahaya kenabian ke dalam hati murid. Sekaligus mengajarkan cara berdzikir yang benar dengan metode Thariqah yang sesuai dengan syariâat Islam. Seorang Mursyid yang sejati, yang menerima perintah khusus dari Allah untuk menjadi guru bagi para pejalan sufi, bisa tampil dengan berbagai macam wajah. Ada kalanya ia tampak lembut dan sabar, begitu mudah dipahami. Ada kalanya pula ia tampil dengan galak dan keras, begitu membingungkan dan sulit dipahami. Seorang mursyid akan mendidik murid-muridnya untuk belajar mengendalikan seluruh bala tentara hawa nafsu dan syahwatnya, untuk mengenal segala macam aspek yang ada dalam diri masing-masing, dan untuk memunculkan potensi dirinya yang sesungguhnya. Potensi yang diletakkan Allah dalam qalb masing-masing manusia ketika ia dijadikan. Dalam tahap pembersihan diri ini, hampir semua murid biasanya meronta. Tentu saja, karena hawa nafsu dalam diri kita pasti meronta jika dipisahkan dari hal-hal yang disukainya. Tapi demi memunculkan diri muridnya yang asli, maka mau tak mau, Sang Mursyid harus melakukannya. Sang Mursyid harus memaksa murid-muridnya untuk belajar mengendalikan seluruh bala tentara hawa nafsu dan syahwat Rumi menyebutnya sebagai jiwa binatangâ dalam diri masing-masing. Inilah yang dimaksud Rumi dalam puisinya di atas, bahwa sebenarnya tugas seorang mursyid adalah merebusâ murid-muridnya di atas api, demi memunculkan cita rasanya yang asli dalam diri masing-masing. Pada awalnya, biasanya buncis akan meronta dan bisa jadi, ingin lari. Pada tahap ini, mau tak mau, mursyid kadang perlu mementungnyaâ supaya kembali tenggelam dalam rebusan air mendidih. Tapi sekali si murid sudah merasakan manfaat bimbingan Sang Mursyid dalam perkembangan jiwanya, maka ia akan terus-menerus meminta untuk direbusâ kembali. Apakah ini berarti bahwa seorang murid harus memposisikan dirinya di hadapan gurunya seperti mayat yang dibolak-balik oleh pemandinya? Nah, ini juga pemahaman yang perlu dikoreksi. Ada beberapa hal yang biasanya diajukan kepada para pejalan sufi yang ber-Thariqah maupun yang memiliki mursyid, yang belakangan ini sering mengemuka. Berikut dua contoh representatif ketidaktepatan penilaian yang digeneralisir tersebut. Pertama, âSaya bukan pengikut tasawuf formal. Saya tidak pernah bersumpah setia di bawah telapak tangan seorang guru spiritual untuk hanya menaati dia seorang, karena saya tidak menyukainya. Saya pikir, tidak ada pemikiran dan kesadaran sehat yang bisa terbangun jika seseorang telah memutuskan untuk berhenti bertanya, dan bersikap kritis.â Kedua, ââŚSekurang-kurangnya ada tiga hal penting yang sering dipersoalkan orang mengenai tarekat ini. Pertama, soal otoritas guru yang mutlak tertutup dan cenderung bisa diwariskan. Kedua, soal baiâat yang menuntut kepatuhan mutlak seorang murid kepada sang guru, seperti mayat di depan pemandinya; dan ketiga, soal keabsahan validitas garis silsilah guru yang diklaim setiap tarekat sampai kepada Nabi Muhammad SawâŚSalah satu ciri utama tasawuf positif adalah rasionalitas. Karena itu, tasawuf positif harus menolak segala bentuk kepatuhan buta kepada seorang manusiaâyang bertentangan dengan semangat Islam.â Sekilas, kedua penilaian kritisâ atas mursyid dan thariqah tersebut terkesan memperjuangkan keotonoman individu beserta rasionalitasnya, namun sayangnya terlalu terburu-buru melakukan generalisasi. Terlebih, kedua penilaian kritisâ tersebut lebih merefleksikan prasangka semata ketimbang pembuktian melalui pengalaman menggeluti thariqah. Posisi seperti itu tak ubahnya seperti komentator sepakbola dengan pemain sepakbola. Seorang komentator sepakbola sangat mahir dalam menganalisis kesalahan pemain, strategi yang sedang dimainkan, kegemilangan permainan, dan lain sebagainya. Namun yang lebih mengetahui dan merasakan realitasnya, bersusah-payah, pontang-panting, senantiasa waspada terhadap setiap serangan lawan, hingga akhirnya menjadi pemilik sejati pengetahuannya adalah si pemain sepakbola itu sendiri. Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata, âBila kau merasa cemas dan gelisah akan sesuatu, masuklah ke dalamnya, sebab ketakutan menghadapinya lebih mengganggu daripada sesuatu yang kautakuti itu sendiri.â Namun, di sisi lain, bisa dimaklumi juga bahwa generalisasi bermasalahâkarena ketakutan memasuki dunia thariqah secara langsungâseperti terlihat pada kedua penilaian kritisâ di atas, dilandaskan pada perkembangan mutakhir berbagai thariqah klasik. Maka lahirlah penilaian yang digeneralisasi sebagai karakter sejati seluruh tarekat, sehingga luput mengamati prinsip terdasar kemursyidan dan kethariqahan. Deviasi adalah hal yang lazim terjadi dalam perjalanan sejarah kemanusiaan. Bahkan berbagai kitab suci pun sering mengemukakan bagaimana di setiap masa senantiasa terjadi deviasi ajaran agama sepeninggal sang pembawa risalah atau nubuwahnya. Ini tak ubahnya air yang semakin keruh ketika menjauhi sumber mata airnya, sehingga praktis di hilir hanya akan ditemui air kotor yang sudah tercampur sampah. Begitu pula halnya dengan thariqah. Ketika sang muasis/pencetus atau Mursyid-Syaikh sejatinya meninggal, maka hanya kehendak dan izin Allah Taala semata yang bisa menjamin kemurnian dan serta keberlanjutan thariqah tersebut, yaitu, dengan menghadirkan mursyid sejati pengganti. Apabila Allah Taala tidak menghadirkan mursyid sejati pengganti, berarti silsilah mata rantai thariqah tersebut sudah berakhir, bukan ajarannya. Kemursyidan itu adalah misi hidup, dan hanya boleh dipegang oleh mereka yang telah mencapai marifat dan misi hidupnya adalah mursyid. Tidak semua orang yang telah marifat boleh serta merta menjadi mursyid. Wali Quthb pemimpin para wali di suatu zaman seperti Ibn Arabi pun tidak menjadi mursyid thariqah. Oleh karena itu, sebagaimana puisi Rumi tadi, seseorang tidak bisa mengangkat dirinya sendiri menjadi seorang guru spiritual sebelum ia sendiri sudah pernah, dan berhasil, melalui semua ârebusanâ, dan kemudian memperoleh pengetahuan dari Allah taâala bahwa misi hidupnya memang sebagai seorang mursyid. Kemursyidan adalah sebuah tugas langsung dari Allah taâala misi hidup. Oleh karena itu, jabatan kemursyidan pun tidak dapat diwariskan, sekalipun dengan landasan senioritas, keluasan pengetahuan, atau bahkan garis keturunan. Lantas, bagaimana dengan para salik yang tersisa apabila Allah Taala tidak lagi menghadirkan mursyid sejati pengganti di sebuah thariqah? Tetaplah berpegang teguh pada dua hal paling berharga yang ditinggalkan Rasulullah Muhammad Saw, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Jangan mengada-adakan mekanisme regenerasi mursyid hanya karena ikatan emosional pada thariqah sebagai lembaga, sehingga akhirnya menyerahkan amr urusan kepada orang yang bukan ahlinya. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, katanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda âAllah tidak menarik kembali ilmu dengan jalan mencabutnya dari qalb manusia, tetapi dengan jalan mematikan ulama. Apabila ulama telah punah, maka masyarakat akan mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin yang akan dijadikan tempat bertanya. Orang-orang bodoh ini akan berfatwa tanpa ilmu; mereka itu sesat dan menyesatkan.â Al-Hadits Mursyid sejati adalah pembimbing spiritual para salik thariqah untuk memurnikan dan menyucikan diri, sebagaimana Rasulullah Saw pun adalah mursyid bagi para sahabat utama yang terpanggil untuk menempuh suluk. Mursyid sejati bertugas membantu saliknya mengenal al-haqq secara bertahap sesuai perkembangan nafs-nya, serta mengembalikannya ke penyembahan yang murni kepada Allah Taala. Namun, para salik pun akan dihadapkan pada dilema akan ketidakpercayaan kepada mursyid yang akan menjadi racun dan penyebab kegagalannya dalam bersuluk, tetapi dia pun tidak boleh taklid buta kepada mursyidnya. Kepercayaan tidak bisa dipaksakan. Kepercayaan harus muncul secara alami melalui proses yang alami pula, yang muncul sendirinya dari qalb, sehingga mutlak diperlukan penguatan dengan ilm. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah muhtadun*. QS YĂ¢sĂn [36] 21 Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilm tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan fuad limpahan karunia semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS Al-IsrĂ¢â [17] 36 * Muhtaduun orang yang telah menerima petunjuk Allah atas segala aspek kehidupannya, dan semua tindakannya semata-mata hanya berdasarkan petunjuk Allah taâala kepada dirinya. Dalam kedua penilaian kritisâ terhadap thariqah dan mursyid di atas, hubungan antara mursyid dengan saliknya dipermasalahkan secara terlampau disederhanakan, karena dianggap menuntut ketaatan seperti mayat dengan pemandinya. Sikap seperti sangat potensial untuk menghambat terbentuknya individu modern otonom. Padahal, hakikatnya tidak pernah ada manusia yang otonom. Manusia hanya terbagi menjadi dua golongan, yaitu, mereka yang diperbudak oleh Allah Taala atau diperbudak oleh selain Allah Taala syahwat dan hawa nafsu. Benarkah dalam thariqah berlangsung ketaklidan buta tak bersyarat dari seorang salik kepada mursyidnya? Kepatuhan seperti jenazah di hadapan pemandinya? Permasalahannya, bagaimana seorang salik bisa taklid kepada sang Mursyid, sementara perkataan sang Mursyid sendiri ternyata seringkali salah ditafsirkan? Sebagai contoh, dalam sebuah thariqah, ketika seorang mursyid memerintahkan seorang salik untuk bersiaga menghadapi sebuah serangan sebentar lagi, si salik menafsirkan bahwa ia tengah diajari untuk bersiaga terhadap âseranganâ lahiriah seperti perkelahian, sementara sang Mursyid sebenarnya tengah mengajari kesiagaan batiniah terhadap âseranganâ masalah kehidupan. Bagaimana dengan berbagai pertanyaan dalam kepala kita yang muncul dan berlalu-lalang? Setiap pertanyaan yang muncul di benak manusia itu pasti ada hak jawabannya. Itu tak ubahnya seseorang yang tengah menunggu di ruang tamu. Kemudian dari arah dapur tercium olehnya bau masakan. Bersabarlah, karena tepat pada saatnya makanan tersebut akan dihidangkan ke hadapannya. Tidak semua pertanyaan harus terjawab saat ini juga. Bersabarlah, karena jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul di benak ada hak jawabannya, hanya tinggal masalah waktu saja. Namun, tak jarang manusia begitu arogan sehingga merasa bahwa rasionalitasnya pasti bisa memahami segala hal saat ini juga, dan bisa menghakimi segala perkara dengan bermodalkan ilmu yang kini dimilikinya. Seakan rasionalitas itu tidak punya kelemahan dan batasan. Biasanya terhadap salik tipe fundamentalis rasional seperti ini, mursyid sejati akan menghajarâ habis-habisan keliaran berpikirnya agar bisa fokus demi kebaikan salik itu sendiri. Hal yang paling sulit adalah menjinakan keliaran pikiran untuk fokus kepada perkara fundamental misi hidup yang Allah Taala amanahkan kepada dirinya. Pikiran yang liar memancar kesana-kemari itu seperti lampu pijar 10 watt, hanya cocok dipakai untuk lampu tidur. Namun, apabila cahaya 10 watt tersebut difokuskan menjadi laser, maka besi pun dapat ditembusnya. Munculnya tawaran seperti tasawuf tanpa tarekat maupun tanpa guru saat ini juga berasalan, namun bukan berarti kritiknya terhadap dunia thariqah yang digeneralisir tersebut tepat sasaran. Semangat untuk mengedepankan akal sehat atau rasionalitas dalam mengkaji tashawuf merupakan salah satu hal yang penting. Karena Allah Taala mengaruniakan otak di tubuh manusia, maka cara mensyukurinya adalah memanfaatkannya untuk berpikir maksimal di alam terendah dari seluruh alam ciptaan-Nya, yaitu dunia. Namun, Ad-Diin Agama adalah perkara yang baru akan terpahami apabila seluruh bola akal manusiaâotak nalar, fuad bentuk primitif lubb dan lubb akal nafs, orang yang telah memiliki lubb disebut sebagai ulil albabâterbuka keseluruhannya. Sayangnya, sangat sedikit di antara manusia yang telah Allah anugerahkan kemampuan akal paripurna lahir dan batinnya seperti ini. Di atas semuanya, bukanlah otak yang cerdas dan banyaknya bacaan yang dapat menyelamatkan manusia dari berbagai jebakan syahwat dan hawa nafsu dalam beragama, tetapi niat tulus murni mencari Allah Taala. Seorang buta huruf pun bisa Allah rahmati menjadi ulil albĂ¢b dan arifin orang yang telah mencapai marifat, seperti Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen, maupun banyak sufi buta huruf lainnya, semata karena adanya niat tulus murni untuk mencari dan berserah diri kepada Allah Taala. Niat itu pulalah yang membuat Allah Taala berkenan menganugrahkan cahaya iman ke dalam qalb. Misalnya, seseorang menyatakan bahwa karena dia memiliki kecenderungan saintifik, maka dia memerlukan penjelasan ilmiah terlebih dahulu sebelum memutuskan bersuluk. Namun, kebanyakan manusia memiliki mentalitas untuk tergesa-gesa menyimpulkan sebelum tuntas menelaah. Kecenderungan sikap saintifik itu baik, terlebih karena setiap manusia itu unik serta memiliki kebutuhan dan jalan masuk berbeda-beda. Ibaratnya, ada seekor kucing pertanyaan yang selalu mengeong dalam rumah pikiran kita, karena lapar meminta makanan jawaban. Apabila kucingpertanyaan tersebut tidak diberi makanan jawaban, maka rumah pikiran kita akan berisik oleh suara mengeongnya. Akibatnya, kita pun tidak bisa belajar dengan tenang. Karena itu, berilah makanan jawaban yang tepat untuk mengenyangkan kucing pertanyaan dalam rumah pikiran kita. Penuhilah haknya, sehingga dia bisa diam dan kita pun bisa belajar dengan tenang. Apabila makanan jawaban belum ditemukan, bersabarlah, saatnya pasti akan tiba. Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu penyebab munculnya sikap alergi thariqahadalah ekses dari berbagai praktik yang dilakukan thariqah yang telah kehilangan âulamaânya baca mata airnya. Misalnya, dahulu kala muncul sebuah thariqah. Lazimnya mereka melakukan riyadhah berkala secara bersama-sama. Kebetulan mursyid thariqah tersebut selalu memelihara kucing yang sering mengeong di malam hari karena lapar. Agar suara mengeong kucing tersebut tidak mengganggu riyadhah, maka sang mursyid memerintahkan muridnya untuk memasukkan kucing tersebut ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya. Hal itu berjalan terus selama bertahun-tahun, hingga sang mursyid meninggal. Sepeninggal sang mursyid, para salik generasi pertama thariqah tersebut tetap memasukkan kucing peliharaan sang mursyid ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya agar tidak mengganggu riyadhah. Namun, para salik generasi kedua dari thariqah tersebutâyang tidak tahu sebab akibat dari perbuatan tersebutâmulai mengira bahwa perbuatan itu adalah sesuatu yang harus dilakukan sebelum mereka riyadhah. Maka, ketika sampai di salik generasi ketiga, muncullah semacam kewajiban baru, yaitu adanya sebuah keharusan sebelum riyadhah untuk mencari kucing yang kemudian harus dimasukkan ke dalam sebuah ruangan, kemudian memberinya makan dan menguncinya. Ketika sampai di salik generasi keempat, muncullah buku tentang makna batin dan hakikat memasukkan kucing ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya sebelum melakukanriyadhah. Dan, di salik generasi kelima hingga seterusnya, perbuatan tadi sudah menebarkan citra ketidakrasionalan dan ketidaksejalanan thariqah tersebut dengan syariat. Dalam sejarah tashawuf ada juga tipe sufi yang dinamakan sebagai Uwaysiyyah. Nama ini merujuk kepada seorang tokoh sezaman Rasulullah Saw. yang mengetahui ihwal beliau Saw. tetapi tidak pernah bertemu secara langsung sepanjang hidupnya. Demikian pula Rasulullah Saw., mengetahui Uways Al-Qarni tanpa pernah bertemu dengannya. Hal itu disebabkan karena Uways setibanya di Mekkah tidak bisa menunggu untuk bertemu dengan Rasulullah Saw yang ketika itu sedang pergi sebab ia telah berjanji kepada ibunya di kota lain untuk tidak berlama-lama meninggalkannya. Kondisi Uways berbeda dengan Salman Al-Farisi yang Allah Taala bukakan jalan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah Saw., meskipun berasal jauh dari Persia, dan harus dua kali pindah agama sebagai proses pencariannya. Salah satu sufi yang tergolong Uwaysiyyah adalah seorang Iran, Abu al-Hasan Kharraqani, yang pernah menyatakan âAku kagum pada salik-salik yang menyatakan bahwa mereka membutuhkan Mursyid ini dan itu. Kalian tahu bahwa aku tidak pernah diajari manusia manapun. Allah Taala adalah pembimbingku, kendatipun demikian, Aku menaruh respek besar pada semua Mursyid.â Dari pernyataan seorang Uwaysiyyah tersebut bisa terlihat bahwa yang menjadi pokok persoalan bukanlah apakah seorang Mursyid diperlukan ataukah tidak, apakah perlu ikut thariqah atau tidak. Tetapi, apakah kita adalah seorang pencari Allah Taala dan berazam untuk mencari jalan kepada-Nya? Apabila ya, maka biarlah Allah Taala yang mengalirkan dan membukakan jalan hidup kita, entah itu ikut thariqah atau tidak, apakah akan dipertemukan dengan mursyid sejati di zamannya ataukah Allah Taala sendiri yang akan mengajari. Bukan dengan menyatakan terlalu dini bahwa thariqah dan Mursyid itu tidaklah diperlukan. Ketidakberanian mengambil resiko untuk mengarungi lautan thariqah, terlebih terburu-buru melontarkan pernyataan seolah heroik yang mengisyaratkan keengganan mencari mursyid sejati zamannya, atau senantiasa memilih berjarak ala saintis serta mengandalkan kecerdasan otak untuk bertashawuf secara wacana, bisa dipastikan mustahil mencapai tingkatan marifat. Rumi menggambarkan hal itu sebagai berikut Ketika kauletakkan muatan di atas palka kapal, usahamu itu tanpa jaminan,Karena engkau tak tahu apakah engkau bakal tenggelam atau selamat sampai engkau berkata, âAku takkan berlayar sampai aku yakin akan nasibku,â maka engkau takkan berniaga lantas rahasia kedua nasib ini takkan pernah terungkap. Saudagar yang penakut takkan meraih untung maupun rugi; bahkan sesungguhnya ia merugi orang harus mengambil api agar mendapat cahaya. Karena seluruh kejadian berjalan di atas harapan, maka hanya Imanlah tujuan terbaik harapan, karena dengan Iman memperoleh keselamatan. Amati kisah pencarian Salman Al-Farisi. Sebelum mengenal Tuhannya Muhammad Saw, dia adalah seorang Majusi. Kesadaran yang muncul atas kejanggalan perbuatannya sendiri untuk menjaga agar api yang disembahnya sebagai Tuhan tidak padam, membuat Salman Al-Farisi berani mengambil resiko berpindah ke agama Kristen. Setelah beberapa kali berpindah mengabdi pada beberapa pendeta, dia ditunjuki ihwal keberadaan Nabi akhir zaman. Dan pertemuannya dengan Rasullah Saw, membuat Salman Al-Farisi berani mengambil resiko kedua kalinya untuk berpindah ke agama Islam. Mursyid kammil mukammil mampu mengontrol ribuan bahkan jutaan muridnya, tetapi cara mengontrolnya bukan seorang direktur sedang mengontrol usahanya, atau seorang presiden mengontrol bawahannya. Kontrol di alam ruhani berbeda dengan dengan alam lahiriyah. Tetapi semua itu kesiapan yang dikontrol. Tidak ada jaminan, kontrol mursyid pada muridnya membuat murid langsung sadar 100%. Kalau saja muridnya tetap saja mengikuti hawa nafsunya sendiri, bahkan cenderung kepada ambisi duniawinya ataupun lebih mementingkan alas an nafsu pribadinya. Cahaya ruhani mursyid sulit masuk. Sebagaimana rposulullah saw, dahulu, toh diantara para pengikutnya ada golongan Munafikin, itu berarti hidayah Allah tetap urusan Allah. Para Mursyid tetap mendoakan muridnya, menyampaikan cahaya ruhaninya, tetapi jika mbandel dan keras kepala, para murid tidak akan meraih apa-apa. Apalagi muridnya mulai kontra dengan mursyidnya, malah semakin terlempar dalam kegelapan. Didalam kitab Risalatul Murid, Sayyid Al-Imam Abdullah menjelaskan perihal mencari Syaikh/Mursyid yang kamil sempurna atau Syaikh yang sejati MENCARI SYAIKH YANG SEJATI Ketahuilah sang murid menginginkan dan mencari Syaikh yang sejati untuk menuntut ilmu padanya. Tidak boleh mengambil sembarang orang yang dapat diakui sebagai Syaikh, yang boleh memimpin murid-murid ke jalan Allah Ta'ala, dan menjadi Syaikhnya sehingga ia harus menyelidiki lebih dahulu, dan ia kenal benar-benar keahlian Syaikh tersebut dan hatinya menerima orang itu sebagai Syaikhnya. Demikian sebaliknya seorang Syaikh tidak boleh menerima sembarang murid yang datang padanya minta dituntun ke jalan Allah, sebelum ia menguji kesungguhan si murid untuk menunjukkan keinginannya yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan seorang pemimpin yang akan menunjukkan ke jalan Tuhannya. Syarat-syarat ini harus berlaku bagi murid-murid yang akan menuntut ilmu kepada Syaikh Tahkun Syaikh yang dalam tangannya terserah segala putusan. Murid yang menuntut ilmu pada Syaikh Tahkun ini harus menganggap dirinya seperti mayat yang sedang dibersihkan oleh tangan-tangan yang memandikannya, atau laksana seorang bayi yang berada dalam pemeliharaan ibunya, syarat-syarat serupa ini tidak berlaku pada Syaikh Tabarruh Syaikh yang biasa dimohon keberkatan daripada-nya. Apabila seorang murid bermaksud untuk mendapatÂkan keberkatan seorang Syaikh, bukan tahkimnya maka diperbolehkan menemui sebanyak mungkin Syaikh dan menziarahi mereka adalah lebih baik dan utama untuk memperoleh keberkatan itu. Apabila murid belum mendaÂpatkan Syaikh, dengan tekun dan rajin menunjukkan harapan dan keperluannya kepada Allah SWT, dengan kebenaran yang sempurna agar Dia menunjukkan kepada seorang murid pemimpin yang boleh memimpinnya kejalan Allah SWT. Jika ia bersungguh akan keinginannya pasti Allah akan mengabulkan permohonannya. Sebagaimana Allah akan mengabulkan permohonan orang-orang yang terdesak dipaksa oleh keadaan niscaya Allah akan memimpin dan mendorong pada salah seorang diantara hamba-hambaNya. Setengah murid menyangka dirinya tiada mempunyai Syaikh dan sepanjang masa ia berusaha mencari Syaikh padahal Tuhan telah mentakdirkan seorang Syaikh untuknya. Sedang ia tidak pernah melihat Syaikh tersebut. Syaikh tersebut memelihara murid-murid dengan pandangan bathinnya, dan menjaga dengan penuh perhatian sedang si murid tidak merasakan semua sama sekali. Jika murid yang mengatakan tidak ada Syaikh pada jamannya sebenarnya ia keliru. Atau mungkin Syaikh itu tidak benar. Dan pada hakekatnya Syaikh-Syaikh agung memang banyak sekali, maha suci Allah yang telah menunjukkan bukti kepada para Auliya'Nya. Seperti Dia menjadikan bukti untuk mengenal Zatnya dan Dia akan menunjukkan seorang murid pada Auliya'Nya melainkan yang disukai dan menyampaikan kepada Zatnya sendiri. Ketahuilah bahwa Syaikh yang kamil ialah seorang Syaikh yang selalu memberi faedah pada muridnya, dengan penuh kesungguhan dalam perbuatannya dan perkataannya. Dia memelihara muridnya sewaktu berada dihadapannya, dan juga dimasa murid berada jauh daripadanya. Sekiranya sang murid jauh dari tempat Syaikh berada, maka Sang Syaikh akan memelihara muridnya dengan getaran-getaran kalbunya dalam hal apa saja yang dikerjakan si murid maupun yang ditinggalkannya. Adapun perkara yang sangat membahayakan sang Murid, apabila hati si Syaikh berubah, dan tidak memandang padanya. Dalam hal ini bila dikumpulkan seluruh Syaikh-Syaikh yang lain dari timur sampai ke barat, untuk mengubah hati Syaikh kepada muridnya. Niscaya akan sia-sia dan tidak akan berhasil, kecuali sang murid sendiri haÂŹrus berusaha untuk mengubah hati Syaikhnya dan minta maaf serta mendapatkan keridhoan-Nya. BAGAIMANA HUKUMNYA MEMILIKI SEORANG GURU MURSYID? Ibadah akan sia-sia dan tidak sempurna, jika tidak diiringi dengan hati yang penuh dengan cahaya-Nya. Cahaya Allah tidak akan bisa ditangkap dengan hati yang kotor yang penuh dengan kedengkian, kesombongan, dendam dan lainâlain. Hal ini tidak ada cara lain kecuali harus mempelajari tasawwuf yang dibimbing langsung oleh Guru Ruhani yang disebut Mursyid. Dijelaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali âSeorang murid membutuhkan seorang mursyid , yang membimbingnya pada jalan yang lurus. Sebab jalan keagamaan kerohanian terkadang begitu samara-samar, dan jalan syetan begitu beraneka. Barang siapa tidak memiliki mursyid yang menjadi panutannya, dia akan dibimbing syetan kea rah jalannya. Hendaklah ia berpegang teguh kepada mursyidnya bagaikan pegangan seorang buta di pinggir sungai, dimana dia sepenuhnya menyerahkan dirinyabkepada pembimbingnya, serta tidak berselisih pendapat dengannya.â Dan seluruh ahli thariqah pun sepakat mewajibkan kepada seluruh manusia harus mencari guru yang memberi petunjuk kepadanya untuk menghilangkan macam âmacam sifat yang bisa menjadi penghalang kepadanya dari maârifat ke hadrot Allah oleh hatinya. Hal itu dilakukan agar hati menjadi sah dan khusyu, sebab menghadirkan Allah dalam seluruh ibadah. Sedangkan dalam kenyataannya, hati tak akan bisa khusyu kepada Allah tanpa adanya bimbingan. Jadi mencari Mursyid itu hukumnya menjadi wajib. Sebagaimana dalam kaidah ushul fiqih âMaa laa yatimmul waajib illaa bihi fa huwa waajibun.â Artinya âTidak sempurna kewajiban kecuali dengan suatu perkara dan perkara itu hukumnya menjadi wajib.â Pernah mengatakan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani qs âMaka wajib bagi semua manusia untuk mencari kehidupan hati seperti untuk kehidupan keakhiratan dari ahli talqin dzikir di dunia ini sebelum datangnya maut.â Syekh Abi Hasan Asy-Syadzili qs mengatakan âBarangsiapa yang tidak ikut masuk thariqah-ku yaitu thariqah shufiyyah thariqah-nya orang-orang ahli tasawwuf maka ketika mati, orang itu membawa dosa besar karena hukumnya fardluain. Oleh karena itu, maka wajib untuk pergi mencari seorang guru Mursyid untuk minta talqin dzikir, dan jika sudah menemukan Mursyid yang telah masyhur dalam mengobati muridnya, namun walaupun orang yang mau belajar itu dilarang oleh orang tuanya maka ia wajib untuk berguru.â Sebagian orangâorang yang telah maârifat mengatakan âBarangsiapa orang yang tidak memiliki bagian ilmu batin ini yaitu thariqah tasawwuf maka aku takut orang itu jika meninggal dalam keadaan suâul khotimah yaitu akhir yang jelek karena hati yang kotor.â Dalam kitab Risalatul Qudsiyyah, Syekh Wahab Syaâ telah berkata âMencari guru thariqah itu wajib bagi tiap-tiap murid walaupun telah menjadi Ulama besar, karena sesungguhnya tiapâtiap orang yang tidak mendapat dzikir dari guru Mursyid yang memberi petunjuk kepadanya untuk mengeluarkan sifatâsifat yang cacat di hatinya. Maka orang itu telah maâsiyat kepada Allah dan Rosulnya, hal itu dikarenakan tidak mendapat petunjuk jalan untuk mengobati penyakit hatinya walaupun dengan memaksa tetap tidak akan membawa manfaat kalau tanpa Mursyid, walaupun orang tersebut telah hafal seribu kitab.â Dalam Al-Qurâan surat Al-Kahfi ayat 17, Allah swt berfirman âBarangsiapa yang ditunjuki Allah, niscaya ia mendapat petunjuk dan siapa yang disesatkan-Nya, maka tiadalah engkau menemukan Wali Ursyidâ. Carilah Mursyid Kammil Mukammil yaitu manusia yang paripurna maârifatnya dan menghantar yang lain untuk maârifat kepada-Nya. Guru Mursyid memiliki silsilah yang kuat dan sohih, dimana sanad nya silsilah sampai kepada baginda Nabi Muhammad saw. Seorang mursyid memiliki hak prerogratif untuk mengangkat seorang murid menjadi seorang Guru Mursyid atau wakil mursyid setelah murid tersebut lulus menurut âpandangannya,â Semua perbuatan Guru Mursyid selalu berada dalam cahayaNya dan Allah selalu menuntunnya. Biasanya murid yang akan dicalonkan mursyid atau calon wakil mursyid itu telah berhasil melakukan tarbiyyah khusus. Jadi tidaklah dibenarkan murid mengajarkan talqin atau baiâat untuk menanamkan nur nubuwat cahaya kenabian kepada murid atau jiwa orang lain kecuali telah berhasil tarbiyah pelatihan khusus dan idzin dari mursyidnya. Diterangkan dengan jelas oleh Ulama Taswuf dalam kitab Bayanu Tashdiq âTidak boleh memberi ijazah atau talqin dzikir atau baiâat kepada murid-murid yang lain kecuali sudah ada tarbiyyah, artinya pelantikan dan diberi izin oleh guru mursyid lebih jelasnya Khirqoh Sufiyah dan surat tanda izin atau piagam.â Dan begitupun para Imam rohimahumullah mengatakan âSudah jelas dan tidak samar lagi bahwasanya barangsiapa yang mulai berani memberikan ijazah talqin dzikir Thariqah atau tarekat sedangkan dia bukan ahlinya atau tidak ada izin dari mursyidnya, maka orang tersebut lebih banyak merusak dalam Thariqah jalan menuju Allahnya daripada membuat kemashlahatannya dan murid tersebut terputus dari silsilahnya kepada Nabi Muhammad saw juga otomatis telah keluar dari martabatnya murid yang benar apalagi martabat guru maârifat.â Sumaber KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA Judul Mursyid Dalam Thoriqoh Ditulis oleh Unknown Rating Blog 5 dari 5 Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
Syaikh Utsman Al-Ishaqi Kiai Utsman yang masih keturunan Sunan Giri itu adalah murid kesayangan dan badal Romli Tamim ayah Mustaâin, Rejoso, Jombang, salah satu sesepuh Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di negeri ini. Ia dibaiat sebagai mursyid bersama Kiai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri Mojosari Mojokerto. Sepeninggal Kiai Mustaâin sekitar tahun 1977. Kiai Romli Tamim KH Muhammad Romli Tamim lahir pada tahun 1888 H. di Bangkalan Madura. disamping seorang mursyid, beliau juga kreatif dalam menulis kitab. Beliau wafat di Rejoso Peterongan Jombang pada tanggal 16 Ramadlan 1377 H atau tanggal 6 April 1958 M. Kiai Asrori Beliau memiliki nama panjang Asrori Al-Ishaqi. Sebagaimana dikutip dari beliau ulama Kedinding Lor, Surabaya yang lahir pada 17 Agustus 1951, dan wafat pada 18 Agustus 2009. Beliau mewarisi Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah dari ayahnya, Kiai Usman Al-Ishaqi, Pengasuh Pesantren Al-Fithrah. Habib Luthfi Beliau lahir di Pekalongan pada 10 November 1947 M yang bertepatan dengan 27 Rajab 1367 H, sebagaimana dikutip dari Beliau adalah pemilik majlis taklim yang bernama Kanzus Sholawat di dekat ndalem beliau di Pekalongan. Selain itu, beliau merupakan ketua umum di organisasi Jamâiyyah Ahlith Thoriqoh al-Muâtabarah al-Nahdliyyah JATMAN. Abah Anom Abah Anom merupakan pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya. Selain itu, beliau merupakan mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang berpusat di Tasikmalaya. Sebagaimana diliris dari Abah Anom memiliki nama asli A. Shohibul Wafa Tajul Arifin. Beliau merupakan putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad. Beliau lahir pada 1 Januari 1915 di Ciawi, Tasikmalaya. Beliau wafat pada Selasa 6/9/2011 sebagaimana dikutip dari Ajengan Zezen Ajengan merupakan panggilan untuk ulama di Sunda. Ajengan Zezen yang memiliki nama lengkap Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab ini lahir pada 17 Februari 1955. Beliau merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zainiyah Sukabumi. Selain itu, beliau merupakan Wakil Talkin TarekatQadiriyah Naqsyabandi. Sumber Instagram hamdan_ali26
Bismillahir Rahmanir Rahiim Allah Swt. Berfirman âBarangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan dalam hidupnya seorang wali yang mursyidâ Al Kahfi 17 Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid pembimbing atau guru ruhani merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagaian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qurâan dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid. Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spoiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Syaârani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid. Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah âdunia ilmuâ, yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan maârifat itu sendiri. Jalan maârifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah wushul tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif bisikan-bisikan lembut yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal âBarangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetanâ. Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal bathiniyah, sang ulama tentu tidak menguasainya. Sebagaimana ayat al-Qurâan di atas, seorang Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki prasyarat yang tidak ringan. Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan bimbingan ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing ruhani mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid. Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan maârifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya. Tentu saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah saw. terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal hati. Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan, dengan mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam banyak hal, akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang luar biasa, dan akhirnya banyak yang berhenti di tengah jalan persimpangan. Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam thaâat ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam kemaksiatan. Dalam al-Qurâan disebutkan âIngatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah.â Sebagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah atau susah. Para Wali ini pun memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana, mereka ditempatkan dalam Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil di atas. Dalam kitab Al-Mafaakhirul Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin Ayyad, ditegaskan, â dengan mengutip ungkapan Sulthanul Auliyaâ Syekh Abul Hasan asy-Syadzily ra, â bahwa syarat-syarat seorang Syekh atau Mursyid yang layak â minimal âada lima 1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas. 2. Memiliki pengetahuan yang benar. 3. Memiliki cita himmah yang luhur. 4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai. 5. Memiliki matahati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi. Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut 1. Bodoh terhadap ajaran agama. 2. Mengabaikan kehormatan ummat Islam. 3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna. 4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan. 5. Berakhak buruk tanpa peduli dengan perilakunya. Syekh Abu Madyan â ra- menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah Swt. lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang pendusta ruhani 1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan. 2. Mempermainkan thaat kepada Allah. 3. Tamak terhadap sesama makhuk. 4. Kontra terhadap Ahlullah 5. Tidak menghormati sesama ummat Islam sebagaimana diperintahkan Allah Swt. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, âSiapa yang menunjukkan dirimu kepada dunia, maka ia akan menghancurkan dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada amal, ia akan memayahkan dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada Allah Swt. maka, ia pasti menjadi penasehatmu.â Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan, âJanganlah berguru pada seseorang yang yang tidak membangkitkan dirimu untuk menuju kepada Allah dan tidak pula menunjukkan wacananya kepadamu, jalan menuju Allahâ. Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada para muridnya. Dari kalimat ini menunjukkan bahwa banyak para guru sufi yang tidak mengetahui kadar bathin para muridnya, tidak pula mengetahui masa depan kalbu para muridnya, tidak pula mengetahui rahasia Ilahi di balik nurani para muridnya, sehingga guru ini, dengan mudahnya dan gegabahnya memberikan amaliyah atau tugas-tugas yang sangat membebani fisik dan jiwa muridnya. Jika seperti demikian, guru ini bukanlah guru yang hakiki dalam dunia sufi. Jika secara khusus, karakteristik para Mursyid sedemikian rupa itu, maka secara umum, mereka pun berpijak pada lima 5 prinsip thariqat itu sendiri 1. Taqwa kepada Allah swt. lahir dan batin. 2. Mengikuti Sunnah Nabi Saw. baik dalam ucapan maupun tindakan. 3. Berpaling dari makhluk berkonsentrasi kepada Allah ketika mereka datang dan pergi. 4. Ridha kepada Allah, atas anugerah-Nya, baik sedikit maupun banyak. 5. Dan kembali kepada Allah dalam suka maupun duka. Manifestasi Taqwa, melalaui sikap waraâ dan istiqamah. Perwujudan atas Ittibaâ sunnah Nabi melalui pemeliharaan dan budi pekerti yang baik. Sedangkan perwujudan berpaling dari makhluk melalui kesabaran dan tawakal. Sementara perwujudan ridha kepada Allah, melalui sikap qanaâah dan pasrah total. Dan perwujudan terhadap sikap kembali kepada Allah adalah dengan pujian dan rasa syukur dalam keadaan suka, dan mengembalikan kepada-Nya ketika mendapatkan bencana. Secara keseluruhan, prinsip yang mendasari di atas adalah 1 Himmah yang tinggi, 2 Menjaga kehormatan, 3 Bakti yang baik, 4 Melaksanakan prinsip utama; dan 5 Mengagungkan nikmat Allah Swt. Dari sejumlah ilusttrasi di atas, maka bagi para penempuh jalan sufi hendaknya memilih seorang Mursyid yang benar-benar memenuhi standar di atas, sehingga mampu menghantar dirinya dalam penempuhan menuju kepada Allah Swt. Rasulullah saw. adalah teladan paling paripurna. Ketika hendak menuju kepada Allah dalam Israâ dan Miâraj, Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi Jibril di sini identik dengan Mursyid di mata kaum sufi. Hal yang sama, ketika Nabiyullah Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata harus diuji melalui bimbingan ruhani seorang Nabi Khidir as. Hubungan Musa dan Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Syekh. Maka dalam soal-soal rasional Musa as sangat progresif, tetapi beliau tidak sehebat Khidir dalam soal batiniyah. Karena itu lebih penting lagi, tentu menyangkut soal etika hubungan antara Murid dengan Mursyidnya, atau antara pelaku sufi dengan Syekhnya. Syekh Abdul Wahhab asy-Syaârani, W. 973 H secara khusus menulis kitab yang berkaitan dengan etika hubungan antara Murid dengan Mursyid tersebut, dalam âLawaqihul Anwaar al-Qudsiyah fi Maârifati Qawaâidus Shufiyahâ
Di Kedung Paruk, Sokaraja Banyumas Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah diajarkan oleh Syekh Muhammad Ilyas bin Aly yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Guru Ilyas tahun 1864 M dan sejumlah penerusnya seperti Mbah Malik, KHR Rifaâi Afandi, KHR Abdussalam dan KHR Toriq Arif Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah salah satu thariqah muâtabarah yang dalam sejarah mempunyai silsilah guru sampai Rasulullah SAW melalui mursyid akbar guru besar Syekh Muhammad Bahaudin al-Uwaisi al-Bukhari Ilyas Kedung ParukSyekh Muhammad Abdul MalikPenerus ThariqahMursyid ThariqahSilsilah Guru-Guru ThariqahMbah Ilyas Kedung ParukSemula Mbah Guru Ilyas hanya mengajarkan thariqah ini di Grumbul Kedung Paruk Desa Ledug Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas Purwokerto. Namun perkembangannya meluas sampai Sokaraja dan daerah-daerah sekitar Karisidenan dan pengembang thariqah yang diajarkan oleh Mbah Guru Ilyas di Kedung Paruk adalah putra beliau dari istri Kedung Paruk Nyai Zainab cucu Syekh Abdus Shomad/Mbah Jombor , yaitu Syekh Muhammad Abdul Malik, sedang yang di Sokaraja adalah putra beliau dari istri Sokaraja Nyai Khatijah putri Kiai Abu Bakar Penghulu Landrat/ Peradilan Agama, yaitu Syekh Muhammad Muhammad Ilyas Mbah Guru Ilyas, memperoleh ijazah sebagai mursyid Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah dari Syekh Sulaiman Zuhdi Al Makki di Jabal Qubes Makkah Saudi Arabia. Beliau berguru memperdalam ilmu tasawuf dan berbagai disiplin ilmu lainnya di tanah suci selama 40 Guru Ilyas adalah salah satu dari sembilan Ulama yang mendapat amanah mengajarkan dan menyebarluaskan thariqah di tanah jawa khususnya dan nusantara Indonesia pada umumnya. Dari sang guru Syekh Sulaiman Zuhdi Al Makki Selama 48 tahun 1864-1912 Mbah Guru Ilyas mengemban amanah mengajarkan dan menyebarluaskan Thariqah Naqsyabandiyah Al Khalidiyah di sekitar Karsidenan Muhammad Abdul MalikBeberapa saat sebelum Mbah Guru Ilyas wafat tahun 1333 H/1912 M, kemursyidan Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Kedung Paruk diamanahkan kepada Syekh Muhammad Abdul Malik dan kemursyidan di Sokaraja diamanahkan kepada Syekh Muhammad Affandi. Mbah Guru Ilyas wafat dalam usia 147 tahun dimakamkan di komplek Pondok Thariqah Sokaraja Muhammad Abdul Malik yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Malik, di samping mengajarkan mursyid Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah juga mengajarkan mursyid thariqah Syadziliyah dua thariqah terbesar di jugaBanom NU karangjengkol Ziarah Wali se Cilacap- BanyumasHalal Bihalal dan Silaturahim Toriqoh NahsyabadiyahâŚ.Toriqoh Menurut Maulana Habib Lutfi bin YahyaSyekh Muhammad Abdul Malik dikenal sebagai Guru Besar Thariqah An Naqsyabandiyah dan Thariqah As Syadziliyyah Indonesia. Beliau memperoleh ijazah mursyid Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah langsung dari sang ayah Syekh Muhammad Ilyas, sedang ijazah mursyid thariqah Syadziliyyah diperoleh dari Al Qutub AlâArif Billah As Sayyid Ahmad Nahrawi Al Makki Makkah Saudi samping itu Mbah Malik juga pengamal Thariqah Qadiriyyah, Alawiyyah dan lainnya. Konon Mbah Malik mengamalkan 12 Thariqah. Namun ada empat thariqah yakni Naqsyabandiyah Khalidiyah, Syadziliyah, Qadiriyyah dan Awwaliyyah yang beliau ajarkan kepada Malik memangku kemursyidan thariqah di Kedung Paruk selama 68 tahun 1912-1980 M. Beliau wafat dalam usia 99 tahun, pada hari Kamis malam Jumâat, 2 Jumadil Akhir 1400 H/ 17 April 1980 M dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien Kedung ParukThariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah diturunkan kemursyidannya kepada Syekh Abdul Qadir cucu Mbah Malik dan dua thariqah terbesar Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Syadziliyah diturunkan kemursyidannya kepada murid kesayangannya, yaitu Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Pekalongan Rais Am Jamâiyyah At Thariqah Muâtabarah An Nahdiyyah Indonesia JATMAN.Penerus ThariqahPenerus Syekh Muhammad Abdul Malik di Kedung Paruk adalah cucu-cucu beliau, karena beliau tidak menurunkan anak laki-laki anak laki-laki satu-satunya yang bernama Ahmad Busyairi wafat ketika masih lajang umur 36 tahun. Satu-satunya anak perempuan Mbah Malik Nyai Chairiyah, menurunkan 9 orang anak 3 anak laki-laki dan 6 anak perempuan.Penerus pertama Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah Syekh Abdul Qadir bin Haji Ilyas Noor cucu nomor 3, memperoleh ijazah mursyid langsung dari Mbah Malik, memangku kemursyidan selama 22 tahun 1980-2002. Syekh Abdul Qadir wafat pada hari senin 5 Muharram 1423 H/ 19 Maret 2002 M, dalam usia 60 tahun dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien Kedung kedua Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah cucu nomor 6, Syekh Saâid bin Haji Ilyas Noor, Beliau memperoleh ijazah mursyid dari Alhabib Almursyid Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan. Ia memangku kemursyidan selama 2 tahun 2002-2004. Syekh Said wafat pada hari kamis, 3 juli 2004 dalam usia 53 tahun dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien Kedung penerus ketiga Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah adalah cucu nomor 7, Haji Muhammad bin Haji Ilyas Noor. Ia memperoleh ijazah mursyid dari Alhabib Almursyid Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya pada hari senin 1 Rajab 1424 H/ 18 Agustus 2004 M. Saat ini, thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Kedung Paruk dipimpin oleh Haji Muhammad Ilyas Noor penerus ketiga Mbah pondok pesantren Bani Malik resmi pada tahun 2004. Sebelumnya jamâiyyah thariqah Kedung Paruk memiliki nama Pondok Pesantren Thariqah Robithoh As-shufiyah. Pergantian nama ini untuk mengabadikan Mbah Malik, sebagaimana ungkapan Kiai Muhammad Ilyas nama menjadi pondok pesantren bani malik ini mulai tahun 2004. Dulu awalnya malah tanpa nama ketika tahun 1864-1980. Perubahan nama ini karena ingin mengabadikan Mbah Malik karena Beliau sebagai pendobrak, pemerkasa dakwah di siniBerikut mursyid-mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Al Khalidiyah Ilyas, Wafat 29 Shofar 1334 H 05 Januari, 1916 MKHR Muhammad Affandi, Wafat 1347 H 1929 MKHR Ahmad Rifaâi, Wafat 1388 H 1969 MKHR Abdusalam, Wafat Hari Senin, 13 Rajab, 1435 H 12 Mei 2014 MKHR Toriq Arif Ghuzdewan MSCESilsilah Guru-Guru ThariqahRasululloh Muhammad SAWSahabat Abu Bakar-SiddiqSahabat Salman Al-FarisiSyekh Qashim bin MuhammadSyekh Jaâfar ShodiqSyekh Thaifur bin Isa Abu Yazid BustomiSyekh Abi Hasan Ali KhorqoniSyekh Abi Ali Al FadloiSyekh Yusuf HamdaniSyekh Abdul Kholiq GhujdawaniSyekh Arif RiwikariSyekh Mahmud Anjir FaghnawiSyekh Ali RomitaniSyekh Baba SamasiSyekh Amir Kulal KhojikaniyahSyekh Muhammad Bahauddin NaqsyabandiSyekh Alaudin AththorSyekh Yaâqub JarhiSyekh Nashiruddin Ubaidillah AhrorSyekh Muhammad ZahidSyekh Muhammad DarwisySyekh Muhammad KhaujakiSyekh Muhammad Baqi BillahSyekh Ahmad FaruqiSyekh Muhammad MaâshumSyekh Muhammad SaifudinSyekh Nur Muhammad BudwaniSyekh Habibullah Syamsuddin Jana JananSyekh Abdullah DahlawiSyekh Khalid BaghdadiSyekh Abdullah MakkiSyekh Sulaiman QorimiSyekh Sulaiman Zuhdi Ismail BarusiKHR Muhammad IlyasKHR Afandi IlyasKHR Rifaâi AfandiKHR AbdussalamKHR Toriq Arif GhuzdewanThariqah Naqsyabandiyah Al Khalidiyah Mursyid, Guru & Silsilah, sumber Thariqah Sokaraja KhayaturrohmanIkuti berita NU Cilacap Online NUCOM di Google News, jangan lupa untuk follow Suka Berkomunitas, Suka Kopi, Blogger, Pengembang Website, Praktisi Ruqyah Aswaja, Terapis Cilacap, Team IT Situs Islam Aswaja NU Cilacap Online
mursyid thoriqoh yang masih hidup